Langsung ke konten utama

Postingan

SENIOR

  Sudah menjadi rahasia umum, bahwa seorang junior harus menghormati seniornya. Di dunia pendidikan yang ku tahu begitu, dan kurasa berlaku juga dimanapun itu. Senior selalu berkaitan dengan orang tua dan junior yang lebih muda. Bukan hanya perihal umur, tapi isi otak juga lebih sedikit sebanding dengan pengalamannya , kata mereka. Membantah ke yang lebih tua itu durhaka, ngelamak kalo bahasa jawanya. Terlebih di dunia kesehatan. Sudah menjadi aturan tak tertulis untuk junior tunduk dan patuh ke senior. Aku tak ingin menyinggung kasus-kasus senior junior yang belakangan ini sedang ramai. Pertama, ini bukan ranahku dan yang kedua kejadian ini tidak terjadi di depan mataku. Bukan berarti tak percaya dan tak berempati. Aku hanya tidak mau menjadi saksi hal yang tak kusaksikan. Ku harap kalian mengerti maksudku Di dalam dunia kesehatan yang notabene masa pendidikannya lebih lama dari jurusan lain, seperti ada aturan mutlak tak tertulis yang entah sejak kapan dan siapa pencetusnya....
Postingan terbaru

INSIGHT

  Orang yang rame itu adalah orang yang wawasannya luas. Orang yang banyak bicara adalah orang yang punya pengetahuan paling banyak. Itukah yang kalian pikir saat mendengar kata insight? Dulu aku juga pikir begitu. Orang yang ramai adalah orang yang punya bahan obrolan paling banyak. Itu artinya dia punya wawasan banyak. Tapi dewasa kini, aku mulai banyak tau pentingnya mendengarkan dan hanya duduk diam. Aku mulai sadar betapa banyak omongan yang isimya hanya kekosongan. Betapa banyak debat yang tak berujung solusi karena merasa benar diantara keduanya. Banyak omong bisa jadi cara seseorang menunjukkan egonya. Dengan catatan, jika tidak pada tempatnya. Jika dulu aku selalu terima apapun yang circleku tawarkan atas sebuah obrolan. I try to let go, if everybody’s there just give me obrolan dengan bahan kosong. “Ketika kamu bicara kamu hanya sedan mengulang apa yang kamu tahu, ketika kamu mendengar kamu sedang belajar ilmu baru.” Dalai lama Dewasa kini rasanya sulit sekali me...

BAKAT

  BAKAT   Kurang dari seminggu aku akan   mengikuti lomba unuj bakat untuk acara Dies Natalis kampus, Insya Allah. setiap perlomabaan yang diadakan harus di ikuti oleh masing-masing perwakilan kelas, termasuk kelasku. Karena kalo sampai nggak ikutan akan ada denda yang lumayan per cabang lombanya. Awalnya aku mengajukan diri untuk ikut speech competition atau pidato bahasa inggris (lagi) seperti tahun lalu. Bukan karena aku ngerasa jago bahasa inggris. Tapi karena aku tahu itu lomba yang lebih masuk akal ku ikuti daripada yang lain seperti voli atau catur. Di bidang lomba semacam itu aku bahkan nggak tahu perhitungan menang kalah dan bahkan misal di curangi depan mata pun aku nggak akan tahu saking zero-nya. Jadi saat aku mengajukan diri untuk ikut lomba tersebut, aku langsung di tolak mentah-mentah. Kenapa? Ya karena cabang lomba pidato bahasa inggris tahun ini nggak ada. Padahal bayanganku pasti kayak tahun lalu. Yang participate lomba itu Cuma 3 kelas (sebelum ...

HIDAYAH

  Apa hal pertama yang kalian pikirkan saat mendengar kata hidayah? Bagiku, hidayah itu mahal harganya. Bahkan saking mahalnya sampai tak terhingga. Nggak ada jaminan hidayah datang dengan banyaknya uang yang manusia punya. Nggak ada jaminan hidayah datang pada orang yang punya jabatan penting di suatu negara. Hidayah hanya akan diberikan pada orang-orang pilihkan yang memang Allah beri petunjuk khusus untuk lebih dekat kepada-Nya. “Entarlah, nunggu hidayah dateng” “Iya nanti pas udah dapet hidayah” Kira-kira itu respon yang kudapat saat aku coba tipis-tipis berdakwah. Entah mulai dari masalah tutup aurat sampai pentingnya shalat wajib.  Awal-awal aku B aja. Aku hanya melakukan itu murni untuk  menggugurkan kewajiban sebagai seorang hamba yang terus melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Sampai akhirnya, karena terlalu eneg dengan jawaban serupa, aku jadi mikir:  apa arti hidayah sesungguhnya? Benarkah hidayah perlu ditunggu sedemikian rupa? Lalu bagaimana...

PARENTING

  Kelak seorang anak akan menjadi cerminan bagaimana seorang Ibu menjalani   nalurinya. Itu yang ditulis Valerie Patkar dalam novelnya yang berjudul Luka Cita. (sambil promosi, kalian boleh banget pinjem bukunya dengan hubungi aku ya. Wkwkw) Awalnya aku bingung.  Butuh beberapa kali aku baca ulang sampai aku menarik kesimpulan yang jelas selama ini belum pernah aku dapatkan, bahwa seorang anak yang hebat lahir dari Ibu yang hebat. Terlepas dari gelar yang seorang Ibu punya. Tapi pola didik yang menentukan keberhasilan hidup sang anak kedepannya. Dulu kupikir mendidik anak dumulai saat anak mulai bisa diajari bicara. Hal-hal basic yang kita bisa ajarkan dengan melafalkan kata-kata mudah. Perlahan aku tau bahwa mengajarkan anak dimulai saat anak bersarang di kandungan. Mulai bacakan ayat-ayat Al-qur’an, ajak anak berbicara, makan-makanan bergizi. lalu dewasa ini, aku dapat ilmu baru, bahwa mendidik anak dimulai dari masa muda ibunya. Aku sempat menentang keras hal itu...

VIRAL

  Dulu, mereka yang dikenal banyak orang udah pasti mereka yang punya karya hingga mereka jadi terkenal. Mereka ini adalah orang-orang unik yang nggak semua orang punya keunikan itu. Ada yang dari lama jadi penyanyi di daerah atau bahkan pemain sinetron yang kebetulan aktingnya paling bagus. Bagian “orang biasa” baru akan muncul kalo ada kejadian-kejadian heboh dan itupun masu ke kanal berita. Tapi itu dulu. Makin canggih teknologi dan sosial media makin ramah. Makin bebas orang mau berekspresi tanpa kekangan undang-undang dan rating TV. Jadi terkenal semudah membalikkan telapak tangan. Nggak perlu juga effort tinggi dengan durasi puluhan detik, lalu BOOM . Semua atensi langsung di dapat. Yang sekarang kita kenal dengan sebutan VIRAL. Suatu informasi atau berita yang sangat cepat menyebar luas. Sekiranya itu yang ku tangkap dari pengertiannya Di dunia digital sekarang yang seolah kalo nggak nongol di intenet berarti nggak hidup, emang cukup menanatang.Dunia seolah ingin tiap ...