Langsung ke konten utama

BAKAT

 

BAKAT

 

Kurang dari seminggu aku akan  mengikuti lomba unuj bakat untuk acara Dies Natalis kampus, Insya Allah. setiap perlomabaan yang diadakan harus di ikuti oleh masing-masing perwakilan kelas, termasuk kelasku. Karena kalo sampai nggak ikutan akan ada denda yang lumayan per cabang lombanya.

Awalnya aku mengajukan diri untuk ikut speech competition atau pidato bahasa inggris (lagi) seperti tahun lalu. Bukan karena aku ngerasa jago bahasa inggris. Tapi karena aku tahu itu lomba yang lebih masuk akal ku ikuti daripada yang lain seperti voli atau catur. Di bidang lomba semacam itu aku bahkan nggak tahu perhitungan menang kalah dan bahkan misal di curangi depan mata pun aku nggak akan tahu saking zero-nya.

Jadi saat aku mengajukan diri untuk ikut lomba tersebut, aku langsung di tolak mentah-mentah. Kenapa? Ya karena cabang lomba pidato bahasa inggris tahun ini nggak ada. Padahal bayanganku pasti kayak tahun lalu. Yang participate lomba itu Cuma 3 kelas (sebelum ada aturan denda). Yang automatically dari semuanya menang semua. Wkwkw...Tapi karena mau nggak mau harus ikutan jadilah aku pilih yang lagi-lagi masih masuk akal untuk  ku ikuti yaitu Kendedes talent. Yups, cabang lomba baru yang katanya untuk unjuk bakat mahasiswa.

Lalu saat aku daftar cabang itu, aku ditanya mau nampilin apa. Dan ya aku bingung dong. Nyanyi? Suaraku bagus pas nyanyiin lagu galau aja, lainnya fales dan sumbang. Nari? Bahkan banyak yang bilang aku itu tipe perempuan yang kaku macam cowok. Jadi apa bakatku? Apa bakat yang mau ku tampilkan?

Sampai aku sadar, setelah banyak baca riset, dengerin podcast, nonton youtube tedtalk dan self discovery lainnya. Kenapa bakat harus dikaitin sama nari dan nyanyi aja sih? Seolah yang nggak bisa nari nggak bisa nyanyi orang yang nggak berbakat. Kalo bakat itu adalah keunikan yang dimiliki setiap orang kenapa harus ada orang yang merasa nggak punya bakat? Maksudku masih ada orang yang merasa bisa di beberapa hal tapi nggak se-ahli itu dalam melakukannya aka orang rata-rata. Dan aku merasa itulah aku. Rasanya bakat hanya terbatas di seni menyanyi dan menari.

Terus apa kabar dengan atlet sepak bola? Atlet bulu tangkis? They don’t have talent, isnt it? THEY TALENTED. So why then? Bahkan mereka yang telah di klaim berbakat masih latihan untuk mengasah bakat itu. Bahkan mereka yang udah ahli badminton masih terus disiplin tiap hari main badminton.

“ Talent without working hard is nothing. Success is more a combination of how hard one is willing to work or practice than the god given talents we are born with. ” Christiano Ronaldo

“Yah, mereka-mereka ini udah tau apa talentnya kan? Ya wajarlah mereka melatih talent bawaan lahir itu? Apalah daya yang dari lahir nggak dikasih kelebihan apapun”

Aku nggak menampik bahwa I’ve been in there. Aku pernah ada di posisi ngeyel, ketika aku percaya semua manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tapi kenapa aku ngerasa Cuma punya kekurangan.

Jawabannya karena kita terlalu sempit memaknai BAKAT.

Bakat nggak harus nari, nyanyi atau bahkan cabang ilmu olahraga. Memasak, edit video, menulis, bikin kerajina juga bakat. Kalo menurut kalian bakat adalah suatu hal  besar yang ada sejak lahir kalian salah besar.

Aku mengartikan bakat sebagai hal unik yang secara natural lebih kita sukai dan kita bisa dari pada yang lain. Contoh di aku, katakanlah public speaking dan menulis adalah bakatku. Maka ku misalkan secara natural, nilai public speaking ku 3, nilai menulisku 4. Sedang di keunikan lain, bisa jadi nilainya 1 atau dua. Look hanya beda tipiiis sekali. Kalo aku menyerah. Merasa nggak punya bakat. Ya hilang semua. Jadi orang yang rata-rata. Nggak punya keunikan.

Dalam hal bikin kreatifitas. Sejak dulu pelajaran gambar, apapun itu. Aku selalu merasa kesulitan. Hve no idea, at all. Bahkan yang maish kuinget kemarin waktu gambar lapisan kulit atau periode masa subur di matkul maternitas, aku hampir sejam. Untuk suatu hal yang bagi temenku yang lain 20 menit selelsai dengan hasu=il yang rapi. Disitu aku makin yakin, itu memang bukan bakatku. Aku nggak harus jago dalam kategori itu.

Mungkin sama halnya dengan punya anak nanti. Kalo kita aware bahwa tiap anak punya bakat dan keunikan masing-masing. Kita aka sadar bahwa saat anak dapet 7 di Seni budaya sedang 9 atau 10 di pelajaran lainnya. Just focus dengan apa kelebihannya. Angka 6 ataupun 7 yang diperoleh itu tetep score. Dia bukan bodoh yang dapetin 0.

Kalo mungkin sekarang kita di didik untuk jadi orang rata-rata oleh orang tua kita. Maka cukup berhenti di kita. generasi selanjutnya nanti yang akan keluar dari rahim kita kalo Allah pilih kita sebagai Ibu, adalah generasi dengan talenta dan keunikan yang mereka dengan percaya diri mengakui dan mengemangkannya.

Jadi bakat nggak harus hal besar. Hal yang paling kamu suka dan kamu yakini bahwa itu bakat. Adalah hal yang harus kamu asah dengan jam terbang yang luar biasa

Komentar