Orang yang rame itu adalah orang
yang wawasannya luas. Orang yang banyak bicara adalah orang yang punya
pengetahuan paling banyak. Itukah yang kalian pikir saat mendengar kata
insight?
Dulu aku juga pikir begitu. Orang
yang ramai adalah orang yang punya bahan obrolan paling banyak. Itu artinya dia
punya wawasan banyak. Tapi dewasa kini, aku mulai banyak tau pentingnya
mendengarkan dan hanya duduk diam. Aku mulai sadar betapa banyak omongan yang
isimya hanya kekosongan. Betapa banyak debat yang tak berujung solusi karena
merasa benar diantara keduanya.
Banyak omong bisa jadi cara
seseorang menunjukkan egonya. Dengan catatan, jika tidak pada tempatnya. Jika dulu
aku selalu terima apapun yang circleku tawarkan atas sebuah obrolan. I try to
let go, if everybody’s there just give me obrolan dengan bahan kosong.
“Ketika kamu bicara kamu hanya
sedan mengulang apa yang kamu tahu, ketika kamu mendengar kamu sedang belajar
ilmu baru.” Dalai lama
Dewasa kini rasanya sulit sekali
memilih diam disaat dunia luar gembar-gembor dengan pencapaian. Prestasi,
penghargaan bahkan harta. Diam rasanya canggung dan seperti tenggelam. Namun memilih
bising juga lelah. Karena terasa bukan aku saat melakukannya.
Semakin kamu merasa pintar makin
kamu merasa diirmu tak tahu apa-apa. Kamu makin belajar karena kamu tahu hanya
sedikit sekali hal yang kamu tahu. Kamu diam menjadi pengamat dan pembelajar
hingga suatu saat suaramu diperlukan kamu akan bebricara, dalam forum yang
memang tersdia tepat.
Tentang insight, ternyata tak
bisa diukur dari banyaknya jumlah kata yang dikeluarkan seseorang. Tapi sebberapa
bisa kita menempatkan diri saat ada suatu hal yang tak seharusnya minta dan
harus di tanggapi. Rasa-rasanya terlalu berlebihan saat kita tahu bahkan di
dunia yang katanya sempit ini masih terlalu sempit pemikiran kita yang berpikir
kita tahu semua.
Ketika kita berhenti mendengar
sebenarnya kita sedang berhenti belajar. Saat kita berhenti belajar, dunia
seperti terus berjalan sedang kita merasa aman dan nyaman istirahat di tempat. Menjadi
orang kolot yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri.
Saat itu rasanya tak ada yang
bisa menggantikan peran kita. kita tak percaya bahwa ada yang lebih mampu dari
kita. bukan untuk bersaing tentu saja. Tapi untuk berkolaborasi menciptakan suatu
inovasi yang mana tahu bisa memberikan lebih banyak arti.
Hai jiwa muda, kamu masih harus
terus banyak belajar dan mendengar. Kau harus bisa mengontrol caramu berbicara.
Kau harus tahu betapa indahnya attitude seseorang saat diam takzi mendengarkan.
Tidak, aku tidak sedang ingin membungkam suaramu yang mungkin juga perwakilan
suara dari orang yang memilih membisu. Aku disini hanya ingin memberikan
pengingat, bahwa yang banyak bicara tak mengukur banyaknya wawasan yang ia
punya. Diamlah jika itu untuk belajar. Bijaklah dalma bicara. Wawasanmu tujuannya
untuk membangun dirimu dan sedkitarmu. Wawasanmu
untuk membangun keluarga, aga dan bangsamu. Bukan untuk merendahkan sesamamu. Kalau
kau sadar kau bahkan tak tau sedikitpun, maka kau akan banyak belajar. Kau akan
belajar bagaimana cara yang biak dalam mendengar dan menghargai pendapat
Untuk jiwa muda yang haus ego dan
pengakuan. Merendahlah, merunduklah dalam berguru mencari ilmu. Semoga teru
smenjadi hambal Allah yang tak pernah berhenti belajar. Allah yuftah ‘Alaikum
Komentar
Posting Komentar