Langsung ke konten utama

INSIGHT

 

Orang yang rame itu adalah orang yang wawasannya luas. Orang yang banyak bicara adalah orang yang punya pengetahuan paling banyak. Itukah yang kalian pikir saat mendengar kata insight?

Dulu aku juga pikir begitu. Orang yang ramai adalah orang yang punya bahan obrolan paling banyak. Itu artinya dia punya wawasan banyak. Tapi dewasa kini, aku mulai banyak tau pentingnya mendengarkan dan hanya duduk diam. Aku mulai sadar betapa banyak omongan yang isimya hanya kekosongan. Betapa banyak debat yang tak berujung solusi karena merasa benar diantara keduanya.

Banyak omong bisa jadi cara seseorang menunjukkan egonya. Dengan catatan, jika tidak pada tempatnya. Jika dulu aku selalu terima apapun yang circleku tawarkan atas sebuah obrolan. I try to let go, if everybody’s there just give me obrolan dengan bahan kosong.

“Ketika kamu bicara kamu hanya sedan mengulang apa yang kamu tahu, ketika kamu mendengar kamu sedang belajar ilmu baru.” Dalai lama

Dewasa kini rasanya sulit sekali memilih diam disaat dunia luar gembar-gembor dengan pencapaian. Prestasi, penghargaan bahkan harta. Diam rasanya canggung dan seperti tenggelam. Namun memilih bising juga lelah. Karena terasa bukan aku saat melakukannya.

Semakin kamu merasa pintar makin kamu merasa diirmu tak tahu apa-apa. Kamu makin belajar karena kamu tahu hanya sedikit sekali hal yang kamu tahu. Kamu diam menjadi pengamat dan pembelajar hingga suatu saat suaramu diperlukan kamu akan bebricara, dalam forum yang memang tersdia tepat.

Tentang insight, ternyata tak bisa diukur dari banyaknya jumlah kata yang dikeluarkan seseorang. Tapi sebberapa bisa kita menempatkan diri saat ada suatu hal yang tak seharusnya minta dan harus di tanggapi. Rasa-rasanya terlalu berlebihan saat kita tahu bahkan di dunia yang katanya sempit ini masih terlalu sempit pemikiran kita yang berpikir kita tahu semua.

Ketika kita berhenti mendengar sebenarnya kita sedang berhenti belajar. Saat kita berhenti belajar, dunia seperti terus berjalan sedang kita merasa aman dan nyaman istirahat di tempat. Menjadi orang kolot yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri.

Saat itu rasanya tak ada yang bisa menggantikan peran kita. kita tak percaya bahwa ada yang lebih mampu dari kita. bukan untuk bersaing tentu saja. Tapi untuk berkolaborasi menciptakan suatu inovasi yang mana tahu bisa memberikan lebih banyak arti.

Hai jiwa muda, kamu masih harus terus banyak belajar dan mendengar. Kau harus bisa mengontrol caramu berbicara. Kau harus tahu betapa indahnya attitude seseorang saat diam takzi mendengarkan. Tidak, aku tidak sedang ingin membungkam suaramu yang mungkin juga perwakilan suara dari orang yang memilih membisu. Aku disini hanya ingin memberikan pengingat, bahwa yang banyak bicara tak mengukur banyaknya wawasan yang ia punya. Diamlah jika itu untuk belajar. Bijaklah dalma bicara. Wawasanmu tujuannya untuk  membangun dirimu dan sedkitarmu. Wawasanmu untuk membangun keluarga, aga dan bangsamu. Bukan untuk merendahkan sesamamu. Kalau kau sadar kau bahkan tak tau sedikitpun, maka kau akan banyak belajar. Kau akan belajar bagaimana cara yang biak dalam mendengar dan menghargai pendapat

Untuk jiwa muda yang haus ego dan pengakuan. Merendahlah, merunduklah dalam berguru mencari ilmu. Semoga teru smenjadi hambal Allah yang tak pernah berhenti belajar. Allah yuftah ‘Alaikum

Komentar