Kelak seorang anak akan menjadi cerminan bagaimana seorang Ibu menjalani nalurinya. Itu yang ditulis Valerie Patkar dalam novelnya yang berjudul Luka Cita. (sambil promosi, kalian boleh banget pinjem bukunya dengan hubungi aku ya. Wkwkw)
Awalnya aku bingung.
Butuh
beberapa kali aku baca ulang sampai aku menarik kesimpulan yang jelas selama
ini belum pernah aku dapatkan, bahwa seorang anak yang hebat lahir dari Ibu
yang hebat. Terlepas dari gelar yang seorang Ibu punya. Tapi pola didik yang
menentukan keberhasilan hidup sang anak kedepannya.
Dulu kupikir mendidik anak
dumulai saat anak mulai bisa diajari bicara. Hal-hal basic yang kita bisa
ajarkan dengan melafalkan kata-kata mudah. Perlahan aku tau bahwa mengajarkan
anak dimulai saat anak bersarang di kandungan. Mulai bacakan ayat-ayat
Al-qur’an, ajak anak berbicara, makan-makanan bergizi. lalu dewasa ini, aku
dapat ilmu baru, bahwa mendidik anak dimulai dari masa muda ibunya. Aku sempat
menentang keras hal itu karena kupikir, apa hubungannya?
Ternyata, sedikit sekali ilmu
yang kupunya. Bahwa mengubah kebiasaan buruk yang lama bersarang tak semudah
membalikkan telapak tangan. Kalo Ibunya sedari muda tak tau gizi seimbang,
apakah mungkin kebutuhan gizi anaknya nanti cukup dengan banyaknya uang? Kalo
Ibunya sedari muda tak suka sayuran, apakah mungkin saat hamil nanti mampu
mencukupkan kebutuhan anaknya dengan sayuran. Kalo Ibunya sedari muda suka
makan sembarangan, pola makan telat acak-acakan. Apakah mampu memlihara satu
nyawa di kandungan sedang memelihara dirinya saja keteteran?
Karena aku belum jadi Ibu, jadi
kata mereka yang ku dengar bahwa jadi Ibu itu sulit. Tapi bukan tak mungkin.
Selama kita bersiap; ilmu. Atas pertolongan dan bimbingan Allah semuanya akan
terlewati dengan baik.
begitu pula dengan pendidikan anak. Orang tua sering kali menyalahkan pertemanannya jika anak melakukan hal buruk yang tak diajarkan di rumah. Orang tua kerap menyalahkan gurunya jika anak tak pandai di sekolah. Yang banyak lupa bahwa pendidikan pertama anak bukan TK, tapi Ibunya. Yang kita lali, pendidikan utama anak bukan di sekolah, tapi rumahnya.
Bisa jadi anak tak salah bergaul, dia hanya berusaha mencerna apa yang ia peroleh di luar rumah. Jika baik biarlah, jika buruk didiklah tanpa menyalahkannya. Karena rasa ingin tahunya merupakan fitrah pada seusianya. Jika ilmu baru yang dia tak tahu benar salahnya sudah kita hakimi di rumah, mungkin selanjutnya dia tak kan pernah menampakkan rasa ingin tahunya di depan orang tua dan memilih bertanya pada orang yang mungkin salah di luar rumah.
Pesanku, didiklah. Displinkanlah diri kita. Sebelum Allah titipkan amanah berupa seorang hamba yang akan menentukan masa depan generasi selanjutnya.
Teruntuk para Umma dan Calon Umma. Semoga terus Allah berikan berkah dan kemudahan dalam memaksimalkan peran kita
Komentar
Posting Komentar