Sudah menjadi rahasia umum, bahwa
seorang junior harus menghormati seniornya. Di dunia pendidikan yang ku tahu begitu, dan kurasa
berlaku juga dimanapun itu. Senior selalu berkaitan dengan orang tua dan junior
yang lebih muda. Bukan hanya perihal umur, tapi isi otak juga lebih sedikit
sebanding dengan pengalamannya, kata mereka.
Membantah ke yang lebih tua itu durhaka, ngelamak kalo bahasa jawanya. Terlebih di dunia kesehatan. Sudah menjadi aturan tak tertulis untuk junior tunduk dan patuh ke senior. Aku tak ingin menyinggung kasus-kasus senior junior yang belakangan ini sedang ramai. Pertama, ini bukan ranahku dan yang kedua kejadian ini tidak terjadi di depan mataku. Bukan berarti tak percaya dan tak berempati. Aku hanya tidak mau menjadi saksi hal yang tak kusaksikan. Ku harap kalian mengerti maksudku
Di dalam dunia kesehatan yang
notabene masa pendidikannya lebih lama dari jurusan lain, seperti ada aturan
mutlak tak tertulis yang entah sejak kapan dan siapa pencetusnya. Tapi memang
kami harus setunduk itu pada senior. Terlebih di lahan praktik-rumah sakit atau
tempat praktik lain. Pengalaman junior lebih sedikit, mereka masih segar dan
seperti kosong dalam segi lahan. Sedang senior, tempat praktek menjadi rumah
keduanya.
Tak salah, hormat memang benar
adanya. Tapi yang ku sayangkan, mindset takut membantah ini memendam banyak sekali ide hebat.
Mindset patuh dan hormat ini membungkam inovasi yang dinanti.
Pernah dengar pasal senior selalu
benar dan jika salah kembali ke pasal 1. Itu benar adanya. Hingga melahirkan
generasi pendiam yang hanya fokus dengan ilmu turun temurun. Melahirkan generasi
anti kritik dan jangan mengkritik. Melahirkan generasi tutorial yang hanya
mengikuti instruksi.
Apa senioritas sebegitu
memuakkannya? Tidak juga sebenarnya. Tapi entah apa namanya.
Tapi sepengalamanku, aku juga
pernah jumpa dengan senior yang haus akan masukan. Pandai meminta saran dan
lapang menerima kritik. Senior yang haus akan belajar. Yang sadar bahwa dirinya
juga manusia yang pasti akan dan punya kurang. Beliau senior, guru
sekaligus partner yang berkata, Hanya karena saya tau lebih dulu, bukan berarti
saya lebih pintar dari kalian saat juniornya takut-takut memberi sanggahan.
Atau saat ku coba diam saat ku tahu seniorku salah. Namun beliau kemudian berkata, Saya bisa salah, jadi pertahankan
argumenmu jika memang benar sumbernya. Kalimat yang membuatku lantang
memaparkan hasil kerjaku yang berbanding terbalik dengan sanggahannya.
Detik itu. Aku tahu bahwa aku tak
hanya belajar pada seniorku, tapi kami saling belajar dan mengajarkan satu sama lain. tak ada yang lebih hebat karena kami saling hebat dengan cara kami sendiri. kami saling butuh satu sama lain. Terimakasih Ibu Tiwuk di Poli mata RSUD Bangil. yang menginspirasi penulis melahirkan tulisan ini
Komentar
Posting Komentar